Puncak Itu Kita Yang Tentukan, Ciremai 3078 Mdpl

101_4966

“Return home is real success, summit is only bonus” sebuah bagian dari quote populer Alan Hinkes, seolah benar-benar terjadi pada pendakian kali ini…

Ide pendakian kali ini datang dari ku, entah angin apa yang membawaku untuk mengajak dua orang teman, yaitu Panji dan Amri untuk menemaniku melakukan perjalanan kali ini. Untunglah, setelah melakukan beberapa negosiasi, akhirnya kata sepakat terucap. Destinasi kami kali ini ialah Gunung Ciremai via Palutungan. Ada beberapa alasan dasar yang sebenarnya melandasi keputusan kami mendaki melalui jalur ini. Pertama, berdasarkan pengalaman ku, jalur pendakian Linggarjati itu memiliki medan yang terjal, sehingga kurang cocok buat kami yang ingin bersantai. Kedua, jalur Palutungan kabar nya cukup landai dan lebih mudah di bandingkan jalur Linggarjati.

Sabtu, 6 April 2013
Kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan sekitar pukul 9 pagi, sangat jauh dari target kami sebenarnya… Saat itu, hanya ada bus Setia Negara, padahal kami berniat menggunakan bus Luragung. Setelah berbincang sebentar dengan si kenek akhirnya kami memilih bus ini, dengan pertimbangan bahwa jadwal keberangkatan Luragung yang berikutnya masih lama…
Perjalanan Jakarta-Kuningan rupanya tidak seperti yang diharapkan. Terjadi perbaikan jalan di daerah pantura, memaksa supir bus memutar arah melewati jalur Subang. Lebih jauh memang, namun tidak macet…(katanya) Seketika ku sadar bahwa pernah melewati jalan ini. Oh, iya… dulu aku juga melewati jalan ini pada tahun 2010, tujuan nya juga sama, Ciremai! Hanya saja dulu aku bersama teman-teman PA sekolah…

Akhirnya kami sampai di Kuningan, setelah 9 jam bercumbu dengan debu jalanan. Hari sudah malam, kami turun di sebuah SPBU dimana angkot menuju Kuningan Kota biasa melintas. Sesampainya di kota, rasa lapar segera menghampiri… sial nya kami kesulitan mencari tempat makan. Sepanjang jalan, yang kami temui hanyalah penjual buah-buahan serta martabak… “Masa iyasih malam-malam gini makan martabak?” pikirku. Ternyata Panji memiliki saudara yang tiggal tak jauh dari lokasi kami berada… (kenapa ga dari tadi T_T) Di rumah saudaranya Panji, kami diberi makanan dan minuman…(gratis lho) dan tidak lupa, Martabak! Cukup bingung sebenarnya, kami yang sudah makan justru di tawari martabak.. dan semakin bingung ketika kami disuruh membawa martabak tersebut sebagai bekal di perjalanan…

Keberuntungan kali ini menemani kami rupanya, salah seorang saudaranya Panji bersedia untuk mengantarkan kami ke basecamp Palutungan (asik) Sesampainya disana, kami berbincang-bincang terlebih dahulu dengan penjaga pos mengenai rencana keberangkatan kami. Setelah itu kami di persilahkan untuk beristirahatdi Basecamp yang telah disediakan. Menurutku, basecamp Palutungan ini cukup baik kondisi nya, terdapat sebuah kasur besar serta sofa yang nyaman. Tidak lupa kamar mandi yang bersih dan terawat. Hanya saja malam itu kami memilih tidur dengan sleeping bag kami.. maklum, terdapat dua orang supir yang sedang tertidur lelap di kasur besar itu, kabarnya mereka mengantarkan rombongan 20 orang dari Jakarta tadi pagi.. pantas…

Minggu, 7 April 2013
Pukul 5.15 kami terbangun, segera saja kami berbenah dan bersiap. Setelah registrasi, kami memulai perjalanan pukul 6.00 . Trek awal pendakian ini adalah melewati rumah-rumah serta lahan pertanian penduduk. Tak butuh waktu lama untuk mencapai pintu rimba dari basecamp, cukup 15 menit saja… Perjalanan dilanjutkan menuju pos Cigowong yang jaraknya cukup jauh. Sekitar pukul 8.05 kami sampai di pos ini. Berhubung tadi pagi belum sarapan, maka kami memasak dua buah Indomie disini. Pos Cigowong ini nyaman untuk berkemah, selain dekat dengan sumber air, luas nya pos ini juga memudahkan kita untuk mencari lokasi buang hajat.. hehehe. Waktu hampir menunjukkan pukul 10 pagi ketika kami melanjutkan perjalanan. Dari sini, treknya mulai terjal, namun jarak antar pos tidak terlalu jauh, sekitar 20-50 menit saja. Singkat cerita, kami sampai di pos Pesanggrahan (2450 mdpl) nyaris pukul 1 siang. Disini kami kembali memasak, menyantap makan siang. Perjalanan pun dilanjutkan, namun rupanya kondisi fisik kami sudah mulai menurun, entah karena kurang fit atau berjalan terlalu cepat… Sehingga sekitar pukul 3 sore kami mendirikan tenda di sebuah lapak kecil, diantara pos Sanghyang Ropoh dengan simpang Apuy-Palutungan, ya kira-kira 2700 mdpl. Kondisi sore itu sudah berkabut, belum selesai kami mendirikan tenda, hujan mulai turun. Disinilah awal dari petaka-petaka itu dimulai. Hujan yang tiada henti serta kondisi tenda yang memang kurang bagus menyebabkan kebocoran dimana-mana. Entah, rasanya aku ingin sekali berteriak kesal menghadapi kondisi seperti itu… Lelah, dingin, basah, membuat aku tidak dapat tertidur… Kondisi itu diperparah ketika rasa mules datang dan memaksa saya untuk buang hajat tak jauh dari tenda, ditengah gelap dan hujan deras… Untung nya setelah itu saya merasa lebih tenang, sehingga akhirnya dapat tertidur dengan lelap.
101_4932

101_4938
Senin, 8 April 2013
Pagi ini rupanya cuaca tak juga berubah, kabut tebal masih menutupi wilayah puncak dan sekitar tenda kami. Bahkan menurut Amri, hujan baru berhenti pukul 3 pagi tadi. “Pantas saja penuh kabut begini” pikirku. Akhirnya kami memulai perjalanan ke puncak pukul 6 pagi, namun, istirahat yang tidak optimal membuat kami cepat lelah dan banyak berhenti. Di suatu titik, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Kondisi puncak yang masih terlihat berkabut tebal dari kejauhan, serta tidak dibawa nya air membuat kami kembali ke tenda. Rasa sesal tentu menghampiri, namun kami lebih mementingkan keselamatan diri. Sesampainya di tenda, kami sarapan dan kembali beristirahat sejenak. Sekitar pukul 7 pagi, kabut dari arah bawah mulai menghilang. Jejeran pegunungan di garut serta sebuah waduk besar terlihat jelas, menjadi pengobat rasa kecewa kami. Kami bersiap turun kembali sekitar pukul 8 pagi, dan belum ada tanda-tanda bahwa puncak akan cerah, ya sudahlah.. kami tetapkan saja tempat kami berdiri ini sebagai Puncak perjalanan kami… 2700 mdpl? tidak buruk menurutku…. Setelah berjibaku dengan turunan terjal serta rimbun nya semak-semak Ciremai, akhirnya kami sampai kembali di basecamp pukul 12 siang. Cuaca siang itu cerah sekali, langit biru dengan awan-awan putih… Bahkan puncak Ciremai terlihat jelas dan bersih dari kabut.. “Sial.. hahaha” itulah kata terpikir olehku kala itu. Setelah cukup beristirahat dan makan siang, kami kembali ke kota Kuningan, dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta…
101_4964101_4978
Perjalanan itu tidak selalu menyenangkan, namun pasti ada suatu pelajaran yang dapat kita ambil darinya…

Categories: Adventure | Tinggalkan komentar

Delapan Jam Penuh Cerita, Gede 2958 Mdpl


Panggilan alam itu muncul darimana saja… Sedang duduk-duduk bosan di suatu sudut bangunan, tiba-tiba seorang teman bernama Amri berkata “Yok, naik gunung yuk!” Cling! saat itu juga muncul sebuah destinasi yang akan menjadi tujuan kami… Gede!
Segeralah kami tentukan tanggal keberangkatan, dan 4 Mei lah yang kami pilih. Tanggal tersebut bersamaan dengan diadakan nya Turlap Sosiologi Perdesaan di Jurusan kami. Sementara teman-teman kami turun lapangan di kaki gunung Gede, kami justru mendaki puncak nya hehe.
000_0052
Tanggal 3 Mei 2013, pukul 9 malam, Amri menjemput saya di sebuah minimarket di depan komplek. Berbelanja keperluan sebentar, segeralah kami meluncur ke Cibodas. Malam itu jalanan tidak terlalu ramai, tidak terlalu dingin, pas! Sesampainya di daerah puncak, kami sempatkan diri untuk mampir ke Rindu Alam, sebuah destinasi populer untuk menikmati keindahan kawasan puncak dengan hamparan kebun teh yang luas. Rindu Alam begitu ramai malam itu, keberadaan banyak orang serta pedagang cukup mengurangi ke syahduan malam itu… Tidak berlama-lama, kami segera melanjutkan perjalanan ke Cibodas, dengan destinasi utama Mang Idi, seperti biasa… Sesampainya di Mang Idi, kami segera memesan minuman hangat. Malam itu begitu ramai rupanya, lebih dari 50 orang yang memadati warung Mang Idi kurasa… Kami sempat kesulitan mencari lapak tidur, untung saja ada celah kosong di antara orang yang bergelimpangan, cukup lah untuk sekedar memejamkan mata…

4 Mei, this is the day. Bangun dari tidur, kami segera memesan sarapan. Kondisi pagi itu cukup cerah dan sejuk. Sekitar pukul 6 lewat 15 menit, kami meluncur ke pos perizinan. Setelah mengurus perizinan, kami memulai pendakian pukul 6.30, 30 menit berlalu dan kami sampai di pos Panyangcangan. Istirahat sebentar, lalu perjalanan di lanjut kan. Pada perjalanan naik ini, kami banyak mendahului kelompok-kelompok pendaki yang ada di jalur, mungkin karena bawaan kami cukup ringan… Singkat cerita, kami sampai di Kandang Badak pukul 9 pagi, cukup cepat bukan? Disini kami mengisi perut yang kosong dengan cemilan yang kami bawa, sekaligus meregangkan kaki yang mulai nyut-nyutan. Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Perjalanan ke puncak ini terasa berat, mungkin karena kami berjalan terlalu cepat di awal, sehingga kapasitas stamina dan dengkul kian menipis. Kami berjalan perlahan, menapaki satu-persatu batu di hadapan mata, tujuan kami cuma satu, puncak! Setelah nyaris 3 jam berjibaku dengan bebatuan, akhirnya kami sampai di puncak Gede 2958 mdpl. Puncak Gede ramai sekali siang itu, padahal kondisi cukup berkabut sehingga tidak banyak yang bisa dilihat kecuali wajah-wajah manusia yang kelelahan… Karena rasa lapar yang amat sangat, saya terpaksa membeli sebungkus nasi uduk yang di jajakan disana. Rasa sesal di dasar hati pun muncul ketika mengetahui bahwa harga sebungkus nasi uduk ini adalah 8000 rupiah. Harga yang mahal untuk isi nya yang seuprit itu…
ramai
Kawah
Puas menikmati kabut, kami memulai perjalanan turun pukul 12.20 . Perjalanan turun dari puncak cukup lambat dikarenakan banyak nya pendaki yang turun sekaligus naik, tak ubahnya kondisi jalanan di Ibukota, macet! Kami mendapat suguhan-suguhan unik dan menarik di perjalanan turun. Berpapasan dengan seorang pendaki cantik dengan Carrier di pundak nya di jalur Puncak Gede-Kandang Badak menjadi salah satu momen tidak terlupakan, namun tidak ada yang mengalahkan momen dimana kami melihat seorang wanita berpakaian mirip J*KT48 melintasi kami di sekitar Kandang Badak, sungguh tak habis pikir kami melihat gaya berpakaian wanita tadi di rimbun nya hutan seperti ini. Tak jauh dari lokasi sebelum nya, kami kembali bertemu dengan wanita yang berpakaian layak nya ke Mall, memakai baju gemes serta tas jinjing… Hal-hal unik itu cukup mewarnai perjalanan turun kami,dikala kondisi fisik semakin memprihatinkan…

Selepas pos Panyangcangan, kami mulai berjalan layak nya zombie, tidak teratur dan pincang-pincang. Mungkin karena belum terbiasa dengan pendakian satu hari seperti ini… Setelah melalui perjalanan tiada akhir, kami sampai di pos perizinan pukul setengah tiga sore. Kami beristirahat sejenak disana, lalu melanjutkan perjalanan ke Mang Idi. Niatan kami untuk pulang hari itu juga sirna, karena kondisi tubuh yang belum memungkinkan. Walhasil kami menginap semalam lagi di warung mang Idi guna memulihkan kondisi tubuh. Keesokan pagi nya kami segera meluncur ke kota depok tercinta.
Pagi

Pagi di Cibodas
Melalui pendakian singkat kali ini, setidaknya kami dapat mengambil gambaran kondisi alam dan sosial yang terjadi di atas sana. Bagaimana interaksi manusia dengan sesamanya, maupun dengan alam…
Sungguh, delapan jam penuh cerita…

Categories: Adventure | 2 Komentar

Berbohong itu… Tidak baik!

Saya disini tidak akan menjelaskan definisi dan akibat dari berbohong secara teoritis, hanya akan berbagi sebuah pengalaman pribadi mengenai suatu kebohongan yang berdampak tidak terlalu panjang namun akan selalu berbekas di memori…

Jumat, 30 Maret 2012

Duduk bersandar pada dinding kayu tipis di suatu warkop, sambil memikirkan destinasi petualangan di hari senin nanti… Tiba-tiba saya teringat pada suatu tempat yang membuat saya cukup penasaran.. Kawah Ratu! FYI Kawah Ratu adalah sebuah kawah aktif yang berada di gunung Salak, kira-kira berada di ketinggian 1380 mdpl. Sontak beberapa teman yang juga penasaran mengiyakannya… Mengapa hari senin? Bukankah itu hari sekolah? Tentu kami tidak bodoh, sebab yang terjadi ialah akan diadakan try out bagi siswa kelas XII pada hari selasanya dan entah karena suatu hal maka hari senin kami di liburkan…

Senin, 2 April 2012

Hari ini di awali dengan berbohong pada orang tua bahwa hari ini masuk sekolah, alasan nya simpel, nambahin duit ongkos… (suatu hal yang nantinya akan menjadi penyesalan) Sesuai kesepakatan, kami berkumpul di warkop tempat kami biasa nongkrong, setelah anggota lengkap kami langsung bergerak ke arah Cidahu, Sukabumi… Setelah melewati perjalanan yang panjang, kami sampai di Cidahu pukul 12.30 Setelah beristirahat sejenak warung, kami memulai perjalanan menuju Kawah Putih… Singkat cerita, perjalanan PP Kawah Ratu sekitar 3 jam. Kembali beristirahat di warung sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing…

Lho kok gitu doang? Ga ada yang aneh??

Tenang, saya sengaja pisahkan catper singkat dengan berbagai kesialan yang saya hadapi karena kebohongan yang terlihat “sepele” di pagi hari nya…

Mau tau banget? Oke…

1# Ketilang sama pak polisi di sekitaran Ciawi.. Kenapa? Karena kebetulan yang bawa motornya temen saya yang belum punya SIM, pas banget ada razia rutin hari senin… Tau gitu saya ga usah tukeran posisi di lampu merah sebelum nya.. Lumayan, 40 ribu melayang.. itu juga udah nego berkali-kali…

2# Udah tau masih musim hujan kok ya ga ada yang bawa jas hujan atau ponco? Belum ada 15 menit dari warung di dekat pintu rimba, kami sudah di terjang hujan deras… Sialnya hanya saya yang bawa jas hujan… walhasil kami turun hujan-hujanan. Beruntung sekali teman yang semotor dengan saya, jas hujan kami bagi dua, saya pakai celana nya, dia pakai atasan nya…

3# Bochor bochor… Sudah jatuh di timpa pretty asmara pula, penderita belum berakhir rupanya… setelah melewati jalanan tak rata yang banyak bebatuan, tiba-tiba ban motor saya kempes… Terpaksalah saya dorong sekitar 200 meter unruk mencari seorang tukang tambal ban.. Ternyata benar ban saya bochor… 7 ribu pun melayang demi kembali sehat nya motor kesayangan…

Setelah membaca serangkaian peristiwa sial diatas, tidakkah kalian terpikir sesuatu?
Bahwa kebohongan itu sebenarnya tidak akan membawa kebaikan, justru akan membawa kita ke dalam kesengsaraan?

Sejak hari itu saya menjadi lebih mengerti serta percaya bahwa kuasa Tuhan benar-benar ada. Tuhan tidak tidur!

Oleh karena itu, mulai sekarang, cobalah teman-teman memulai setiap hari dengan kejujuran. Mudah-mudahan mendatangkan berkah…

Categories: Adventure, Daily Life | Tinggalkan komentar

JanuaRain in Lawu

Tak terasa, Ujian Akhir Semester telah dilalui dengan lancar. Kini tiba saatnya melepas kepenatan yang selama ini terpendam. Bukan saya namanya kalau tidak menyempatkan untuk mendaki gunung. Segeralah saya mencari tanggal yang tepat untuk melakukan pendakian di bulan Januari, bulan hujan. Tanggal 16-17 Januari menjadi pilihan, segeralah saya sms beberapa teman guna menyemarakkan pendakian kali ini. Belum memulai pendakian saja sudah keliatan sifat-sifat dari beberapa teman yang saya ajak. Ada yang semangat, malas, telmi, ada juga yang php, huft. Setelah melalui proses seleksi alam, akhirnya tersisa 4 orang terpilih untuk melakukan pendakian kali ini, mereka adalah saya,Corpus,Arby dan Miqdad. Unik nya, mereka tidak kenal satu sama lain, saya disini sebagai alat pemersatu mereka ceritanya. Corpus jelas adalah teman satu jurusan saya di sosiologi, yang kebetulan suka naik gunung juga. Arby adalah teman saya ketika perjalanan sebelum nya (Papandayan). Sementara Miqdad kenal saya melalui jejaring sosial FB dalam sebuah grup berlatar belakang hobi yang sama.
101_4794
Selasa, 15 Januari 2013. Hari ini kami janjian berkumpul di stasiun Ps. Senen pukul dua siang. Saya sendiri baru sampai di lokasi nyaris jam 3 sore, sementara Miqdad datang pertama dan Arby yang terakhir. Kami menaiki Kereta Ekonomi Brantas tujuan Kediri, kami berencana akan turun di stasiun Solo Jebres. Perjalanan dimulai kira-kira pukul 4 sore, sampai di stasiun Semarang Poncol pukul setengah dua pagi, berhubung jalur kereta api sedang dilanda banjir, perjalanan kami tertunda lebih dari 4 jam. Akhirnya kami sampai di stasiun Soo Jebres pukul 8 pagi. Tak berlama-lama kami langsung mencari tempat sarapan di sekitar stasiun. Warung soto kwali menjadi pilihan kami. Sekitar 30 menit kemudian Corpus datang, karena ia berangkat dari Sukoharjo. Anggota pun telah lengkap, berbekal informasi dari salah seorang kawan, kami berangkat menuju pos pendakian Cemoro Kandang dengan mencarter kendaraan milik Pak Suhar. Sekitar pukul sebelas pagi kami sampai di pos Cemoro Kandang, sempat kaget karena terdapat tulisan bahwa jalur pendakian di tutup. Kepanikan segera hilang setelah berbicara dengan penjaga pos dan kami diizinkan untuk mendaki. Kami memilih untuk istirahat sejenak dan sarapan untuk kedua kalinya di warung depan Cemoro Kandang. Sedang nikmat-nikmatnya menyantap makanan, tiba-tiba sang penjaga pos datang dan mengatakan bahwa jalur pendakian harus di tutup karena cuaca badai di atas, lalu kami di sarankan untuk mendaki melalui jalur Cemoro Sewu saja. Dengan harapan besar, kami melangkahkan kaki ke Cemoro Sewu. Sesampainya disana, tak ada seorang pun di basecamp nya, padahal pintu nya di buka dan terdengar bunyi musik dari dalam sebuah kamar. Setelah lelah menunggu, kami memutuskan untuk mulai mendaki pada pukul 13.20. Jalur pendakian ini memang cukup terjal,perlahan-lahan pos demi pos kami lewati, hingga kami memutuskan untuk camp di sekitar Pos 4 pada pukul 22.30. Angin kencang menyambut kami disini, sehingga cukup sulit untuk mendirikan tenda. Ada peristiwa unik ketika kami sampai di Pos 3, ketika kami sedang menikmati roti isi keju dan susu, tiba-tiba muncul sesosok lelaki yang ternyata seorang pendaki yang membalap kami di sekitar Pos 1, gilanya, ia hanya membawa sebotol air mineral ukuran kecil. Karena mendapat info bahwa warung Mbok Yem tutup, maka ia memilih menunggu rombongan kami di Pos 3. Dari sana kami memulai perjalanan dengan mas-mas tadi.

Narsis..

Narsis..

Sunrise

Sunrise

Sunrise

Sunrise


Pagi 17 Januari 2013, mulai menyambut kami, perlahan-lahan matahari naik ke singgasananya. Kami menikmati sunrise di Pos 4 sambil berfoto-foto. Sekitar pukul 6 pagi, saya,miqdad, dan mas noname, mulai mendaki ke puncak. Sementara Arby memilih melanjutkan tidur, dan Corpus yang sudah sering muncak memilih stay di tenda. Kami sempatkan mengambil air di Sendang Drajat untuk keperluan berikutnya. Pukul 7.50 akhirnya kami sampai di puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl. Cuaca cerah menyambut kami pagi itu. Langit biru serta lautan awan menjadi suguhan elok dari gunung Lawu. Tak lupa kami berfoto-foto ria kembali di puncak. Tidak ada siapa-siapa pagi itu, hanya kami bertiga. Setelah puas menikmati panorama puncak, kami kembali ke pos 4 untuk sarapan dan packing. Entah ada angin apa, Arby ingin ke puncak juga, waktu menunjukkan pukul 9, dengan berbekal informasi dari kami, ia menuju Hargo Dumilah. Kami yang lelah, setelah sarapan langsung tertidur pulas di tenda. Dua jam berlalu dan belum ada tanda-tanda kedatangan Arby. Corpus pun menyusul Arby ke Sendang Drajat, menurut seorang petapa disana, Arby ternyata nekat mendaki ke puncak, padahal cuaca sedang berkabut. Corpus pun kembali ke tenda dan melanjutkan tidur siang nya, Kini sudah lebih dari 4 jam dan Arby belum juga kembali, akhirnya Coprus dan Miqdad mencoba mencari Arby ke puncak. Sialnya, di puncak mereka tidak menemukan Arby, malah si Corpus mules dan akhirnya BAB disana. Mereka justru bertemu Arby di dekat Poas 5 ketika hendak turun lagi. Walhasil kami baru benar-benar turun dari Pos 4 sekitar pukul 4 sore. Saya yang mengejar kereta, berjalan paling depan, sehingga yang lain tertinggal. Sampai di Pos 3, saya istirahat dan menunggu yang lain,5 menit kemudian miqdad datang dan di susul Arbu dan Corpus. Disini tim pisah menjadi 2, saya bersama Corpus, sementara Arby bersama Miqdad. Perjalanan turun bersama Corpus benar-benar menyiksa, ia hampir tidak berhenti sepanjang perjalanan turun. AKhirnya saya dan Corpus sampai di Cemoro Sewu pukul 6 sore. Sial kembai datang, sudah tidak ada angkutan kemanapun sore itu. Maka tiket Matarmaja pkul 21.35 pun saya ikhlaskan begitu saja. Segeralah kami mencari tempat makan, lalu kembali ke basecamp untuk istirahat. Miqdad akhirnya sampai di CS pukul 7 malam, sementara Arby datang satu jam kemudian. Seusai makan, kami memutuskan untuk tidur, guna memulihkan tenaga yang hilang selama pendakian.
Hargo Dumilah

Hargo Dumilah

Puncak

Puncak

Gaya

Gaya

3265 mdpl

3265 mdpl

Nice

Nice

Mantab

Mantab

Biru..

Biru..


Pagi 18 Januari 2013, kembali bersama Pak Suhar, kami melaju menuju Solo. Sesampainya di Solo Jebres ternyata tiket KA Ekonomi tujuan Jakarta telah habis hingga 2 hari kedepan. Setelah terjadi kebimbangan dan kegalauan hebat, akhirnya kami memilih KA Eko AC Brantas yang tersisa 2. Sesampainya di st. Jatinegara saya berpisah dengan Arby. Pukul 5 pagi akhirnya saya sampai di rumah dengan selamat…ūüôā

Rincian Transport:
KA Brantas EKo : 45.500+7.500 (indomart)
KA Matarmaja Eko : 51.000+7.500 (indomart, batal)
Ka Brantas Eko AC : 155.000
Carter Pak Suhar : 50.000 PP

Categories: Adventure | 2 Komentar

NovembeRain in Papandayan

Musim hujan mulai menampakkan dirinya, sudah beberapa hari ini hujan mengguyur kota Depok dan sekitarnya tanpa kenal waktu. Hujan yang tak menentu rupanya tak menyurutkan semangat ku untuk kembali berpetualang di alam bebas. Kali ini lagi-lagi aku memilih mendaki gunung sebagai sarana pelampiasan penat akibat rutinitas kuliah yang menjenuhkan. Gunung yang kali ini kupilih adalah Papandayan di Garut. Sebenarnya rencana awal ku bukanlah untuk mendaki gunung ini, melainkan gunung Gede yang dari segi waktu dan biaya lebih hemat. Sayang, berbagai cobaan datang silih berganti, hingga akhirnya rencana itu terpaksa dibatalkan, padahal SIMAKSI sudah di tangan, namun apa boleh buat…

Pendakian edisi kali ini, saya ditemani oleh dua orang kawan, yang pertama bernama Melody, yaitu seorang gadis belia yang masih duduk di kelas XI SMA negeri di Jakarta Selatan. Jangan remehkan gadis ini, walau masih muda, rupanya ia telah aktif dalam organisasi Greenpeace. Kawan yang kedua adalah Arby, teman nya Melody. Pada awalnya kami tak saling mengenal, namun ternyata ia masih satu fakultas dengan ku di universitas. Singkat cerita, saya dan melody memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di rumah arby sebelum berangkat ke Terminal Kp. Rambutan esok harinya.

Keesokan paginya, kami bangun, bersiap, dan packing. Sekitar jam setengah tujuh pagi kami meluncur ke terminal kp. rambutan untuk mencari bus jurusan garut. Sesampainya disana tidak butuh waktu yang lama untuk mendapatkan bus yang kami butuhkan. Ternyata perjuangan belum selesai, perjalanan menuju kota Garut sendiri memakan tenaga! macet, ngetem, semua nyamembuat kami gila. Kami sampai di Terminal Guntur, Garut pukul 2 siang. langsung saja kami menaiki angkutan yang menuju gerbang dsa cisurupan. Kami turun di sebuah minimarket yang terletak dekat dengan gerbang desa cisurupan untuk mengisi perbekalan. Tak lama kemudian, kami langsung menyewa ojek untuk mengantarkan kami ke pos pendakian gunung papandayan. Pos pendakian papandayan cukup luas, karena terdapat lapangan parkir dan warung-warung makan.

makan di warung

makan di warung

Waktu menunjukkan pukul 4 kurang 5 menit. Kami segera bersiap untuk memulai pendakian. Mulai dari sini, perjalanan dilakukan dengan kaki.. Trek awal papandayan berupa kawah luas yang masih aktif, disarankan untuk memakai topi dan masker disini,karena cuaca biasanya cukup terik dan banyak asap belerang yang cukup mengganggu pernafasan. Pemandangan sepanjang kawah begitu mencengangkan, asap, kabut, serta hijau nya pepohonan di kejauhan menjadi sebuah paket yang komplit untuk dinikmati. Setelah melewati kawah, kami sampai di sebuah persimpangan, ke kanan merupakan jalur yang jelas menuju Pondok Saladah mengikuti jalur yang terputus, cukup landai dan menyenangkan. Sedangkan jalur kiri lebih terjal dan mengarah pada Hutan Mati yang akan tembus juga ke Pondok Saladah, namun jalur ini kurang jelas karena minim nya penanda jalur. Kami memilih jalur kiri karena pada awalnya kami akan menginap di Tegal Alun, yaitu padang bunga Edelwiss seluas 53 hektar, namun apaboleh buat kabut tebal menyelimuti papandayan sore itu. Akhirnya kami memilih untuk mendirikan tenda di pondok saladah . Langit malam itu berubah-ubah, kadang berkabut, kadang cerah berbintang. Setelah makan malam kami memutuskan untuk beristirahat guna memulihkan tenaga.

Sunrise

Sunrise

narsis

Narsis

Esok paginya, kami memutuskan untuk menuju Tegal Alun dengan hanya membawa air dan peralatan masak. Kami berencana pesta makanan di sana, hehehe. Sekitar satu jam lebih berjalan dari pondok saladah, kami sampai di tegal alun. Sungguh menawan pemandangan tegal alun, benar yang dikatakan arby dan melody yang sudah pernah ke sini sebelum nya. Hamparan bunga edelweiss yang luas sungguh memanjakan mata. Pagi berganti menjadi siang yang terik, namun dengan angin yang begitu sejuk.. Tak lama bersantai kami mulai menyiapkan perapian, kami memilih tempat yang agak jauh dari rerumputan dan edelweiss guna mencegah kebakaran. Menu kami siang itu adalah, Kentang bakar meltcheese dan ayam bakar, serta sosis bakar, pokoknya semuanya serba bakar. Menu pertama yang siap adalah sosis bakar, nikmat sekali menyantap sosis hangat ditemani angin dingin seperti ini.. Lanjut ke kentang meltcheese yang begitu nikmat. Keju leleh nya itu lho yang nggak nahan, uye! Pesta kami di tutup dengan ayam bakar dua tangkap. Gila! ramuan yang dibuat arby ternyata pas sekali dengan ayam bakar, sehingga terjadi sensasi kenikmatan yang berkelanjutan (lebay).

Tegal Alun

Tegal Alun

Taman Edelweiss

Taman Edelweiss

Usai pesta makanan rupanya cuaca mulai tidak bersahabat, awan mendung serta kabut tebal sekejap hadir di hadapan kami. Segeralah kami berberes agar tidak kehujanan di perjalanan. Perjalanan turun kami lalui dengan cepat dan segera mencapai tenda. Beruntung nasib kami, hujan tak lama turun tak hentinya. Rencana kami untuk segera turun ke parkiran akhirnya gagal. Setelah lebih dari satu jam, hujan mulai mereda, kami segera packing ulang bersiap-siap turun. Terlihat beberapa pendaki justru baru sampai di pondok saladah sore itu. Sial, begitu semua sudah siap, hujan kembali turun, raincoat pun segera dipakai. Perjuangan menembus hujan akhirnya dimulai. Turun dikala hujan dan gelap dengan sebuah senter untuk 3 orang itu GILA! entah seberapa pelannya kami melangkah karena sang leader harus bolak balik menyorot ke belakang agar aku dan melody dapat berjalan. Kondisi makin menyiksa ketika sampai di jalur yang putus, kalau siang hari sebenarnya mudah untuk mengetahui mana yang jalur pendakian dan jalur air, namun kondisinya berbeda. Butuh waktu lama disini untuk mentukan jalur, bukan hanya satu, tapi banyak! Untunglah bantuan datang, senter melody yang pada awalnya kami kira rusak ternyata masih bisa menyala. Pergerakan kami menjadi lebih cepat dan segera sampai di persimpangan.

Kondisi arby ternyata drop setelah membawa beban berat dan berjalan terlalu cepat sebagai leader. Ternyata ada sekelompok pendaki yang tersasar malam itu, mereka melewati jalur yang kami lewati di awal pendakian. Siang aja membingungkan, apalagi malam pikirku. Setelah berkomunikasi beberapa kali akhir nya rombongan tersebut memilih turun dan bergabung bersama kami. Beberapa orang langsung survei jalur yang kami pakai untuk turun barusan. Sementara sisanya stay di persimpangan bersama kami. Setelah mengobrol barulah kami tau bahwa jalur kawah di malam hari cukup beresiko. Panas, gas nya juga sedang banyak-banyak nya membuat perjalanan akan semakin sulit. Setelah berdiskusi akhirnya kami memilih untuk menginap sehari di persimpangan, sementara rombongan pendaki tadi melanjutkan perjalanan ke pondok saladah.

Tenda kami

Tenda kami

Pagi menyingsing, setelah menikmati pemandangan kami mulai bersiap turun ke parkiran. Dari persimpangan ke parkiran hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, di sana kami beristirahat dan sarapan terlebih dahulu. Kali ini kami memilih pick up sebagai kendaraan pulang kami menuju gerbang desa cisurupan. Sesampainya disana, langsung ada angkot yang mengantarkan kami ke terminal guntur. Di terminal, kami berjalan agak kedalamuntuk mendapat bus tujuan kami. Perjalanan pulang terasa singkat, siang hari kami telah sampai di sekitar Pasar Rebo, disinilah kami berpisah, inilah akhir dari kisah perjalanan singkat nan bermakna…

Pagi di persimpangan

Pagi di persimpangan

Meninggalkan papandayan
Meninggalkan papandayan

Laporan singkat :

Parkiran – Persimpangan : 45 menit
Persimpangan – Hutan Mati : 1 jam
Hutan Mati – Pondok Saladah : 15 menit
Pondok Saladah – Tegal Alun : 1,25 jam

Biaya :

Jakarta – Garut PP : 70.000
T. Garut – Cisurupan PP : 17.000
Cisurupan – Parkiran : 20.000 (Ojek)
Parkiran – Cisurupan : 23.000 (Pick Up)

Categories: Adventure | Tags: , , , | 1 Komentar

Antara Ada dan Tiada

woles

woles

Entah apa yang ada di pikiran ku 2 hari belakangan ini.. Hari senin esok sudah UAS, namun sampai detik ini, apa yang kulakukan sama sekali tak mencerminkan adanya persiapan yang matang.. Bukan nya meremehkan, justru bingung, apa yang harus dikerjakan lebih dulu, belajar PIP kah? atau justru menyelesaikan tugas KS yang masih terbengkalai.

Sejak SMA sebenarnya UAS ini telah menjadi lelucon menjelang akhir semester. Bagi kami, sekelompok anak yang mengatasnamakan diri nya “cacad” UAS hanyalah mitos! Abaikan saja, hal seperti itu tidak ada.. Begitulah sekiranya reaksi kami mendengar kata UAS. Perlahan, namun pasti. UAS yang pada awalnya hanya mitos kini berubah menjadi kenyataan. Oh, tidaak! Galau, kalut, gundah gulana, itulah yang di rasakan menjelang UAS, namun bukan anak cacad namanya kalau takut sama UAS. Prinsip kami, hadapi semua dengan senyuman! Kerjakan, lalu LUPAKAN!

Ya, pada akhirnya UAS kembali kepada ketiadaan, sekejap ia hadir lalu mati. Sungguh antara ada dan tiada…

Categories: Daily Life | 2 Komentar

Pangrango via Geger Bentang 19-23 Juni 2011

Ijinkan saya menceritakeun kembali perjalanan saya ke Gn. Pangrango pada bulan Juni tahun lalu yang sebenernya merupakan acara diklat pecinta alam sekolah ane Minggu, 19 Juni 2011 Kami ngumpul di rumah salah seorang alumni ga jauh dari sekolah, disana kami packing ulang serta menunggu anggota yang lain datang. Pukul 08.30 kami diberitahu bahwa kendaraan yang akan mengantar kami ke Cibodas sudah sampai di halte Univ Pancasila. Tanpa buang buang waktu kami langsung menuju ke sana.. Jam 11.00 akhirnya sampai juga di Cibodas! Disana kami disambut oleh salah seorang alumni yang sudah lebih dulu sampai. kami memilih stay di mang Idi sampai keesokan pagi nya sambil membicarakan persiapan pendakian besok.  Setelah makan malam dan juga diskusi mengenai persiapan pendakian, kami akhirnya tidur guna menjaga kebugaran tubuh kami.

Senin, 20 Juni 2011

Bangun! Kami buru buru packing ulang, shalat shubuh serta tidak lupa sarapan! 06.00 Semua anggota telah siap, lalu kami memulai perjalanan ke Geger Bentang. Pukul 07.00 kami sampai di tanah kosong di batas hutan, disana kami melakukan upacara pembukaan diklat.. ¬†HUAH! jam 12 siang akhirnya kami sampai di puncak Geger bentang 2042 mdpl. Jalur nya memang GILA, selain nanjak terus juga membingungkan karena tidak adanya tanda2 yang jelas.. Setelah jalanan turun yang cukup landai kami akhirnya sampai di daerah yang bernama Hutan Rotan. Benar saja, banyak banget pohon rotan disini! Rumor2 nya tempat ini juga angker gaan! Pada awalnya kami berniat melanjutkan perjalanan satu jam lagi, namun di tengah jalan kami mendengar suara auman macan yang cukup keras!! Karena alasan keselamatan akhirnya kami memutuskan berkemah di Hutan Rotan sahaja… ¬†Kami kembali melakukan diskusi malam sebelum tidur. (lagi)

Selasa 21 Juni 2011 pukul 09.00 Kami melanjutkan perjalanan dengan target MANDALAWANGI.  Sampai di tanah lapang kecil di mana ada jalur turun di sisi nya ke arah mata air, disana kami istirah serta mengisi kembali persediaan air kami. Jalur selanjutnya adalah batu-batu cadas yang terjaal, cukup melelahkan sebelum kembali masuk ke rimbun nya hutan.. Pukul 15.20 akhirnya! akhirnya kami sampai di puncak barat Pangrango, view nya cukup bagus, walau masih banyak tanaman juga..  Kami melanjutkan perjalanan ke Lembah Mandalawangi yg ternyata gak sampe 5 menit!  Teman2 saya mendirikan beberapa tenda untuk berkemah, serta memasak makanan dan minuman, sementara ane ngacir liat pemandangan serta ambil2 putu.. Malam itu dingin banget gan, sekitar 2 derajat celcius, dan as always diskusi lagi buat hari esok..
Rabu

Bangun, hoaam dingin banget gan, sampe ada bekas2 es gitu di tanah nyaa.. Setelah nyarap dan ambil putu2 kami melanjutkan perjalanan ke Panyangcangan.. Pukul 12.45 sampe di Kandang Badak, istirahat sejenak serta menyantap cemilan cemilan.. 15.30 Sampe di Panyangcangan, istirahat sebentar, lalu kami menuju sebuah tanah lapang disebelah jalur menuju air terjun Cibeureum. Kami mendirikan tenda disana untuk beristirahat dan menaruh barang2.
Kamis

03.00 Р07.00 (acara pelantikan anggota pecinta alam sekolah ane)

09.00 setelah beres2 kami turun ke mang Idi untuk istirahat dan menunggu angkutan..

17.30 kami mandapat angkutan dan melanjutkan perjalanan ke Bogor

20.55 sampai di stasiun Bogor, dapat kereta terakhir  

23.00 ane turun di st. depok baru dan di jemput bokap di sana

Categories: Adventure | Tags: , , , | Tinggalkan komentar

Pendakian Gunung Ciremai 3076 Mdpl Juni 2010

Sebenarnya pendakian ini adalah dalam rangka Pelantikan Senior 2 Angkatan 31 Talam 38, dimana saat itu saya masih junior, jadi ini cerita waktu saya dilantik.. hehe

 

Waktu itu tanggal 26 juni 2010 (kalo ga salah) saya dan saudara2 Talam 38 berkumpul di sekolah untuk packing dan pemanasan. Setelah semua telah siap, kami menuju halte SMA 38 untuk menunggu bus L*ragung untuk menuju ke Kuningan.

 

Sepanjang jalan ke kuningan, kami terusik dengan ada nya pedagang asongan yang hilir mudik menjajakan dagangan nya, sangat teringat oleh saya kata-kata : “mijon aqua ale2” yang berulang kali hingga nyaris membuat saya muak, di tambah dengan suhu di dalam bus yang amat panas karena penuh oleh penumpang..

 

Sekitar pukul 17.30 kami sampai di seberang jalan menuju linggar jati, kami memutuskan untuk mencarter angkot secara bergantian dan akhirnya sampai di warung Pak Ahmad sebagai start awal pendakian. Setelah selesai dengan urusan perijinan dan shalat isya, kami memulai pendakian pukul 19.30 .

 

Trek awal pendakian sudah terasa begitu berat, kami sempat beristirahat sejenak dan mengambil air di pos Cibunar lalu melanjutkan perjalanan dan akhirnya camp di pos Condang Amis 1350 mdpl. Esok pagi nya kami meneruskan perjalanan dengan target Batu Lingga 2400 mdpl. Perjalanan dari condang amis menuju batu lingga ternyata amat berat, terutama di tanjakan bin-bin dan tanjakan seruni yang minta ampun terjal nya.

 

Dengan termehek2 akhirnya kita sampai di pos Batu Lingga menjelang maghrib, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di sini. Perjalanan kami memang sengaja di perlambat karena ini merupakan pendakian formal dalam rangka pelantikan.

 

Esok paginya kami menuju puncak ciremai tanpa membawa carrier, hanya membawa air minum dan sedikit snacks. Setelah melewati pos Sangga Bhuana Bawah dan Atas, kami mulai menjumpai ada nya bunga Edelweiss di kanan kiri jalur. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati, cukup untuk mengurangi rasa letih dan lemas ini.

 

Akhirnya kami sampai di puncak Ciremai pada siang hari. Perjalanan yang panjang akhirnya mencapai puncak nya.. Sayang sekali, karena ini adalah acara formal, saya tidak dapat mengambil satupun foto pada saat itu. Namun senior saya mempunyai beberapa foto yang dapat anda lihat..

 

 

 

Perjalanan turun kami mulai pada siang hari dimana kami sampai kembali di Condang Amis pada malam hari. Lalu terjadi lah malan “pelantikan” yang menegangkan. Keesokan paginya, dengan keadaan “senggol bacok” kami bergegas turun kembali ke Linggarjati. Sesampainya disana kami menyewa rumah rumah penduduk untuk beristirahat sebelum kembali ke jakarta keesokan paginya.

 

Akhirnya tanggal 30 Juni 2010 kami sampai dengan selamat di Sekolah Tercinta, SMAN 38 Jakarta.ūüôā

 

Some picts..

 

 

 

 

 

Categories: Adventure | Tinggalkan komentar

Pengalaman Hiking di Gunung Gede

Hari itu aku benar benar gembira, salah seorang senior berkata padaku bahwa sehabis lebaran nanti, akan ada pendakian Gunung Gede, namun tentu tak mudah untuk melaluinya, perlu latihan khusus dan keras agar kami tidak kaget dengan kondisi yang akan kami lewati nanti. Dua minggu sebelum pendakian, kami berlatih meningkatkan kemampuan fisik agar terbiasa dengan medan yang berat,.

di pos pendakian

di pos pendakian

Tak terasa sudah dua minggu lamanya sejak kami memulai latihan fisik, hari ini, 28 September 2009, kami siap mendaki Gunung Gede, kami memulai perjalanan dengan menuju stasiun Universitas Pancasila, lalu kami menuju bogor dengan menggunakan kereta kelas ekonomi. Sesampainya di stasiun bogor kami langsung mencari angkot untuk di charter. Kami memulai pendakian dari Gunung Putri karena relatif lebih dekat. Setelah istirahat sebentar dan shalat, kami memulai perjalanan yang sesungguhnya, ditemani seorang guide, baru di awal perjalanan, saya sudah mulai kecapaian, ternyata pendakian itu memang berta, perjalanan kami terus berlanjut hingga larut malam, maklum sepanjang perjalanan kami sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat sejenak yang justru membuat perjalanan kami semakin lama. Pukul 24.15 kami sampai di lembah Surya Kencana dan disambut udara yang sangat dingin, kira-kira -2 derajat celsius. Kami bergegas membangun tenda dan memasak makan malam. Setelah makan, kira-kira pukul 3.00, kami segera tidur. Sialnya saya tidur dekat dengan pintu tenda yang tidak tertutup rapat, sehingga semalaman saya tidur di temani udara yang menusuk tulang.

di tenda

di tenda

Pukul 06.00 kami bangun dan segera melihat pemandangan yang begitu indah. Pukul 10.40 kami berangkat menuju puncak Gede setalah makan dan packing. Pemandangan yang indah menyambut kami saat tiba di puncak Gede. Sayang, kami harus segera pulang agar sampai di Cibodas tidak terlalu malam. Perjalanan pulang adalah bagian yang paling menyenangkan sekaligus menegangkan! menuruni bebatuan,melewati sungai air panas yang bersebelahan dengan jurang, dan melewati malam ditengah hutan. Pukul 23.50 kami sampai di Cibodas, dan langsung menuju “Mang Idi”. Setelah makan malam, kami bermalam.

7919_1234882040739_1489857554_30638695_4886233_n

Keesokan paginya. saya, kak Imam, dan Danu pergi menuju Air Terjun Cibeureum. Hanya 30 menit untuk sampai disana, setelah menikmati suasana yang alami sambil berfoto-foto kami kembali ke Mang Idi. Saat nya pulang! kini sudah saatnya mengakhiri seluruh perjalanan kami yang sungguh menyenangkan. Angkot dan kereta kembali menemani perjalanan pulang kami… Sungguh perjalanan yang tak akan terlupakan, tunggu kisah pendakian yang selanjutnya ya!!

7919_1234878960662_1489857554_30638674_6381247_n

Categories: Adventure | Tags: , , | Tinggalkan komentar

WELCOME!

welcome-to-the-jungle-1

Welcome to my blog! Welcome to my life! Welcome to my adventures!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

tofaninoff word√°lana

read ‚ąė think ‚ąė share

Tina Latief's Blog

Journal of Live, Love & Lesson

SOSIOZINE

think beyond

ASE ADVENTURE

You Never Know What The Mountain Will Teach You

Explore the World

‚Äújangan kikir dalam berfikir, jangan komentar kalau tidak bernalar, jangan pernah lempar panah tanpa sasaran. LIHAT, DENGAR, dan RASAKAN.‚ÄĚ

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: